Penemuan dan Pikiran Lucu

Bertemu musisi sekaligus anggota legislatif Once Mekel, asli saya kaget. Persepsi saya tentang Once adalah seorang vokalis pendiam, down to earth, tidak banyak bicara…. membuat kita bakal bingung bagaimana memancingnya untuk bercerita. Ternyata Once Mekel jauh dari bayangan saya itu. Seseorang berwawasan sangat luas, cerdas, sehingga mampu mengutarakan pikiran-pikirannya secara menarik ala motivator handal. Tanpa melontarkan taburan kata-kata rumit dan sulit, demi terlihat intelek.

Awalnya saya  berbasa-basi, menanyakan apakah Komisi X mengurusi masalah pendidikan. Meski sebenarnya saya sudah mencari info sebelumnya tentang tugas Komisi X DPR RI. Once menjawab dengan kalimat yang langsung membuat saya terkesima. “Iya, pendidikan memang bagian dari tugas Komisi X. Kalau membahas tentang pendidikan itu teorinya udah banyak, pakarnya banyak…. Cuma mungkin kita nggak sadar kalau negara-negara maju, memulai kemajuannya dengan invention, penemuan. Menciptakan sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada. Pendidikan sebaiknya menghasil penemu-penemu itu..?”

Kuliah sangat menarik dari Once pun dimulai. “Barat, penuh orang-orang dengan pikiran lucu, sementara kita kurang lucu,” demikian kata Once. Lucu di sini bukan dalam arti sebatas kemampuan melawak atau stand up comedy saja, melainkan pikiran kreatif yang dengan penuh kebahagian bila bisa menciptakan sesuatu.

“Sementara  di sini kita selalu bicara ide besar, membuat dan menciptakan sesuatu untuk kemakmuran dan kesejahteraan bangsa dan negara blablabla… sementara para penemu di Barat menciptakan sesuatu untuk kepentingan atau kesenangan dirinya sendiri awalnya….” demikian Once mulai menjelaskan dengan mimik jenaka. Dia pasti seorang dengan pikiran lucu, dalam hati saya berpikir begitu.

Once berkisah tentang Willis Haviland Carrier, penemu Air Conditioner (AC). Seorang tukang cetak yang mengeluh tentang hawa panas di sekelilingnya telah mengganggu hasil percetakannya. Kertas menyerap udara panas, menjadi lembab, menimbulkan masalah seperti warna cetak berubah dan kertas mengembang. Carrier dengan pikiran lucunya pun merenung mencari solusi, hingga menciptakan mesin yang tidak hanya mendinginkan udara, tapi juga mengontrol kelembapan  (dehumidify), dengan melewatkan udara melalui semprotan air dingin dan coil pendingin.

“Tentu Carrier tidak berpikir temuannya akan dipakai di seluruh dunia. Ia hanya mencari solusi bagi masalahnya,” tegas Once.

Once kemudian menceritakan kisah penemuan lain oleh Wright Brothers, kakak beradik pemilik toko sepeda dan tentu saja ahli sepeda. Suatu kali saat memacu sepedanya dengan kencang, Wright merasa ia dan sepedanya terasa terbang. Wright pun terus memacu sepedanya agar bisa terbang. Ternyata tidak, tetapi Wright mendapat ide untuk menambahkan mesin agar menambah daya terbang. Sampai suatu titik, kekuatan mesin yang dipasang Wright Brothers mampu menerbangkan dirinya. Kelak sejarah mencatat, Wright Brothers “kang sepeda” menjadi penemu pesawat terbang dan pendiri perusahaan penerbangan. Semua berawal dari keisengan memacu sepeda.

Penemuan (invention) menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Setiap penemuan kemudian melahirkan banyak inovasi. Inovasi mengambil ide atau teknologi yang sudah ada (bisa invention atau bukan) lalu mengembangkannya, memperbaikinya, sehingga memberi nilai tambah yang besar. Tidak sampai dua dekade setelah penemuan Wright Brothers, pesawat terbang berkembang makin canggih dan menjadi alat tempur dalam Perang Dunia I.

Once pun meneruskan kisahnya dengan asyik. Awal Perang Dunia I, sebelum tahun 1915, fungsi pesawat dalam militer terbatas untuk pengintai dan pemetaan. Terbang di wilayah musuh, mengamati posisi artileri, pasukan, dan benteng pertahanan. Mirip fungsi drone pada saat ini. Belum menjadi alat tempur. Bahkan saat dua pesawat dari negara yang saling berseteru berpapasan di udara, para pilot akan saling melambaikan tangan atau memberi tanda hormat. Santuy.

Di awal Perang Dunia I itu, pesawat belum bisa menembak lurus ke depan. Pilot menembakkan senjata secara manual bagaikan koboi tembak menembak. Bom tangan pun dilempar manual. Parahnya, tembakan tersebut sering mengenai baling-baling pesawat itu sendiri. Pesawat pun jatuh. Belum lagi dalam dogfight (pertempuran udara), Pilot dan copilot saling tembak dengan pistol atau senapan biasa, bahkan melempar batu bata. Aksi yang disebut “hand-to-hand in the air” ini sangat primitif.

Sekali lagi, kata Once, hadir orang-orang berpikiran lucu. Sang inovator, Anthony Fokker, lahir di Blitar, Jawa Timur. Fokker menciptakan synchronization gear pada pertengahan 1915, ide sederhana memasang alat tembak tepat di tengah baling-baling. Pilot bisa menembak lurus ke depan tanpa membahayakan baling-baling pesawat itu sendiri.  Era pesawat tempur dimulai, senjata pembunuh di udara. Era “fighter ace”. Pesawat yang dulunya berfungsi sebagai “mata” dalam peperangan kini menjadi “taring”.

Temuan Fokker ini digunakan pesawat milik Jerman yang diberi nama Fokker E.I Eindecker. Beroperasi sejak Juli 1915. Jerman kemudian menguasai pertempuran-pertempuran udara  hingga April 1916 saat Sekutu (Inggris dan Prancis) berhasil menguasai teknologi ini. Bukan hanya di dunia militer, penguasaan atas suatu teknologi selalu memberi keunggulan suatu negara atas negara-negara lain. Once juga menceritakan penemuan organ analog, di mana setiap tuts dihubungkan dengan pita berisi rekaman suara alat musik untuk setiap tangga ada yang ada pada tuts organ tersebut.

Pembicaraan kami kemudian beralih pada bentuk pendidikan bagaimana yang menghasilkan pikiran-pikiran lucu, sumber kreativitas dan penemuan. Entah kenapa saya kemudian bertanya mengapa orang Jewish (Yahudi) banyak meraih Nobel, banyak yang menjadi penemu. Apakah mereka memang memiliki DNA cerdas, demikian tanya saya ke Once. Once langsung tertawa dan menukas, “Ya enggaklah… biasa aja. Sama kayak manusia lain. Tapi inget nggak…? Yesus 2.000 tahun lalu udah sekolah TK….”

Tentu saya tidak paham. Once kemudian menjelaskan, sejak abad ke 3 sebelum Masehi, masyarakat Yahudi telah membentuk pendidikan dini bagi anak-anak usia 5-6 tahun. Usia yang kini menjadi usia siswa Taman Kanak Kanak.

“The Jews were the first people in history to establish compulsory

elementary education for all boys.”

(Prof. Nathan Morris, sejarawan pendidikan)

  “The Jewish system of compulsory education from the 1st century AD has no parallel in the ancient world.

(Prof. H.I. Marrou, sejarawan pendidikan Yunani-Romawi).

Sejak abad ke 2 SM hingga abad 1 Masehi, Hukum Yahudi sudah mewajibkan setiap ayah Yahudi mengajarkan Torah kepada anak laki-lakinya sejak usia 5–6 tahun. Jika ayah tidak mampu, harus dicarikan guru. Ini tercantum dalam Talmud dan tulisan Yosefus (sejarawan Yahudi abad ke-1). Di tahun 64 M, Yosua ben Gamla, Imam Besar Yahudi, mengeluarkan peraturan: setiap kota/desa Yahudi harus mendirikan sekolah dasar dan membiayai guru-guru bagi anak laki-laki mulai usia 6–7 tahun. Ini menjadi peraturan wajib belajar pertama dalam sejarah dunia.

Efek wajib belajar ini luar biasa. Pada abad ke-1 M, hampir 100 persen anak laki-laki Yahudi bisa membaca dalam bahasa Ibrani, bukan hanya untuk kepentingan keagamaan. Tingkat melek huruf (literasi) Bangsa Yahudi menjadi yang tertinggi di dunia kuno. Sebagai pembanding, di Kekaisaran Romawi, hanya 10–15 persen penduduk yang melek huruf, dan kebanyakan hanya kalangan elit, karena memang tidak ada wajib belajar. Di Eropa, wajib belajar baru diperkenalkan pada abad ke 18 dan 19 (Prusia tahun 1763, Skotlandia di tahun 1872 dan Inggris pada tahun 1880). Rentang waktu 1.700 tahun dengan wajib belajar Yahudi. Di dunia Islam, madrasah diperkenalkan mulai abad ke 10, tapi tidak wajib untuk semua anak. Jepang sendiri baru memulai wajib belajar di era Restorasi Meiji, 900 tahun kemudian.

Pendidikan dini Yahudi yang awalnya hanya mempelajari kitab suci (Torah) berkembang menjadi tradisi yang bersifat egaliter, tidak elitis dan hanya berlaku pada kelompok masyarakat tertentu. Efek domino yang ditimbulkan memampukan Bangsa Yahudi tetap bertahan selama dua ribu tahun, meski berdiaspora ke seluruh dunia, sementara banyak bangsa kuno lain di dunia telah punah. Tanpa memiliki negara sendiri. Persentase penduduk dengan gelar sarjana tertinggi di dunia sendiri, yaitu 52 persen, hingga saat ini dipegang oleh Israel. Jauh di atas rata-rata negara OECD yang hanya 40 persen.

Terbentuk pula budaya “belajar seumur hidup”. Awalnya orang Yahudi diajarkan bahwa belajar kitab suci (Torah) adalah kewajiban setiap hari seumur hidup. Perlahan ini menjadi budaya untuk selalu belajar sehingga orang Yahudi selalu cepat beradaptasi dengan perkembangan-perkembangan terbaru dunia. Kemampuan berpikir kritis dan berdebat pun diajarkan, dalam sistem belajar Talmud yang awalnya sebatas belajar agama dan kitab suci. Anak-anak dibiasakan selalu bertanya “mengapa?”, mencari kontradiksi, dan membela pendapatnya dengan melatih logika, analisis, dan argumentasi sejak kecil. Ini menjadi dasar kenapa orang Yahudi sangat dominan di bidang hukum, filsafat, sains, dan teknologi. Semua ini dirintis Bangsa Yahudi melalui pendidikan wajib dan sistematis untuk anak-anak kecil yang pertama di dunia, jauh sebelum bangsa lain melakukannya. Demikian tulis Gemini.

Percakapan dengan Once berlanjut, kali ini Once menyoroti, bahwa banyak program-program di Indonesia itu sebenarnya sudah memenuhi kriteria memiliki output yang baik. Ada hasil yang langsung dihasilkan. Biasanya berupa sesuatu yang langsung terlihat. Kita ambil contoh, 200 orang guru mengikuti pelatihan selama tiga hari, maka guru-guru tersebut bukan hanya mendapatkan sertifikat dan modul pelajaran, tetapi juga memahami suatu metode baru dalam cara mengajar. Contoh lain misalnya adalah pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah. Output-nya jelas, bisa berupa jalan, jembatan, gedung-gedung baru, maupun aneka produk infrastruktur lainnya.

Masalahnya, menurut Once, semua program-program tersebut hanya menghasilkan output tetapi lemah atau bahkan tidak ada outcome-nya. Secara sederhana, outcome dapat diartikan sebagai dampak, efek yang terjadi setelah suatu kegiatan dilakukan. Pelatihan guru mungkin tidak berefek banyak dalam peningkatan nilai akademik siswa, atau bahkan menjadikan siswa lebih aktif belajar pun tidak. Sedang suatu proyek pembangunan sistem transportasi dengan budget besar, ternyata tidak menimbulkan dampak ekonomi di wilayah tersebut. Tidak mengurai kemacetan juga.

Output memang lebih mudah dipenuhi karena pengukurannya menggunakan indikator kuantitatif. Panjang jalan, banyaknya guru yang lulus, jumlah sembako yang terdistribusi…. semua lebih gampang diukur dibanding outcome yang menggunakan ukuran-ukuran kualitatif. Manfaat outcome pun tidak instan, tidak segera terlihat. Dalam evaluasi-evaluasi pembangunan, fenomena “output oriented”, banyak terjadi. Pencapaian pembangunan terukur secara fisik, tapi manfaat berkelanjutan terabaikan. Fenomena ini membuat pembangunan minim dampak positif pun terus dilanjutkan di mana-mana. Penyebabnya, banyak. Mulai dari perencanaan yang tidak terintegrasi, tidak lintas sektor, tidak melibatkan stakeholder, sistem pengawasan independen yang lemah, dan aneka macam alasan lainnya….

Pembicaraan kami pun berakhir. Saya sangat tercerahkan dalam obrolan ringan tapi sangat deep ini. Once dengan rendah hati berkata, semua karena ia gemar belajar sejarah. Saya sarankan pada Once untuk membuat podcast dengan materi obrolan ringan mencerahkan seperti ini. Once hanya tertawa, sambil terus mengingatkan saya untuk menjaga pikiran-pikiran lucu di kepala kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *