Klub diskusi buku kami mendapat kehormatan besar dengan kehadiran Mas Wahyu Susilo. Adik dari penyair Wiji Thukul, seorang aktivis pekerja migran di Migrant Care. Kali ini kami membahas buku terbaru tentang Wiji Thukul berjudul Indonesia Belum Merdeka. Berisi esai-esai dan wawancara dengan Wiji Thukul. Jarang sekali ada pemberitaan tentang esai Wiji Thukul, sehingga sering kita mengira Wiji Thukul sebatas penyair dan demonstran.
Buku Indonesia Belum Merdeka memberikan kita gambaran tentang Indonesia di era 80-90an. Kebebasan berpendapat dibatasi pemerintah Orde Baru atas nama stabilitas. Menurut Wiji Thukul, benak atau pikiran tak pernah bisa dibungkam, bahkan dengan memenjarakan mereka sekalipun. Pikiran-pikiran yang tak disuarakan itu akhirnya, justru makin menguat menjadi idealisme dan spirit yang menyala-nyala. Wiji Thukul mencontohkan Jose Rizal, Voltaire, Nelson Mandela dan tentu saja Sukarno. Karya-karya masterpiece mereka lahir dalam pemenjaraan. Menggambarkan keadaan ini sebagai Nyanyi Sunyi Seorang Bisu seperti judul buku Pramoedya.
Wiji Thukul kemudian menjelaskan efek buruk pembungkaman yg sering tidak kita sadari, yaitu timbulnya Self Censorship. Ketika semua orang menjadi takut berbicara, menulis bahkan melakukan penelitian dengan jujur. Ketakutan untuk berkarya. Lahirlah masyarakat yang kehilangan nalar kritis, sebagai dampaknya. Dalam jangka panjang, masyarakat tanpa rasionalitas, nalar kritis ini akan kehilangan daya saingnya di antara persaingan masyarakat modern yang setiap saat beradaptasi dengan peradaban dan teknologi.
Buku Indonesia Belum Merdeka juga menjelaskan jawaban Wiji Thukul atas kritik tentang puisinya yang dinilai puisi pinggiran, tidak indah bahkan vulgar. Kurang estetis. “Puisi-puisi saya memang banyak beredar di kalangan aktivis maupun orang kecil, dan memang sangat khas dan cocok untuk orang-orang bawah,” kata Wiji Thukul. “Karena puisi-puisi naratif lebih bicara dan komunikatif dalam berbagai pertemuan untuk membicarakan masalah mereka, dibandingkan puisi yang absurd dan multi interpretable.”
Bagi Wiji Thukul, puisinya harus menggunakan bahasa yang gampang dipahami kaum marjinal. Dengan begitu, pesan tersampaikan karena memang awam sering kali sulit memahami puisi-puisi estetik tapi multi interpretable itu.
Terakhir, saya bertanya pada Mas Wahyu, mengapa Wiji Thukul begitu cerdas dan berwawasan luas, padahal pendidikan formalnya hanya setara SLTA, itupun tidak tamat. Tulisan-tulisan esainya memperlihatkan pemahaman yang jauh di atas rata-rata sarjana di Indonesia.
Mas Wahyu mengatakan, Wiji Thukul pembaca tekun sejak kecil. Bahkan Busri, Mburi Sriwedari, lapak-lapak buku bekas dan buku murah di Solo yang memang berlokasi belakang Sriwedari, disambanginya setiap hari. Belum lagi aktivitas pergerakannya yang mempertemukan Wiji Thukul pada banyak guru seperti Arif Budiman dan Romo Mangun.
Wiji Thukul pembelajar dari segala hal. Termasuk pengalaman-pengalamannya bermasyarakat masyarakat. Ia tidak pernah berjarak, sehingga kepekaan Wiji Thukul terasah baik. Ada cerita yang dikisahkan Mas Wahyu tentang seorang preman lokal di masa kacil mereka. Preman ini terbiasa meminta ‘jatah’ pada orang-orang yang dianggap kaya. Biasanya ia menulis permintaannya itu pada selembar kertas kecil. Dan mereka, para orang kaya itu akan memenuhinya, dengan imbal balik jaminan keamanan dan bebas gangguan. Salah satu permintaan itu, selain rokok dan uang, adalah roti. Jika si preman mendapatkan permintaannya, maka roti itu akan diberikan kepada Mas Wahyu dan anak-anak di situ. Sang preman sendiri terkenal “murah hati”, gemar membagi hasil palaknya untuk warga kampung. Premanisme ala Robinhood.
Suatu hari, di masa Petrus (penembak misterius), si preman ditemukan tewas tertembak. Mas Wahyu menangis sejadi-jadinya, dan peristiwa itu membuat Wiji Thukul terhenyak, hingga menuliskannya dalam puisi. Bagaimana hidup ini memang tak dapat dipandang dengan hitam putih. Inilah pelajaran-pelajaran kehidupan yang didapat dari sekitarnya.
Obrolan kami kemudian kembali menyinggung soal pendidikan, tentang pentingnya literasi, termasuk juga tentang tokoh-tokoh besar yang seringkali tidak menamatkan pendidikan formalnya. Kita bisa menyebut Thomas Alva Edison, Gus Dur, Bill Gates, Steve Jobs, Zuckerberg dan banyak lagi. Mereka semua itu cerdas. Ada kemungkinan mereka bosan di kelas karena kurikulum yang membosankan, tidak merangsang kreativitas. Meski tidak menyelesaikan sekolah atau kuliahnya, mereka pun cukup percaya diri dengan kemampuan mereka untuk belajar secara otodidak, sehingga tidak membutuhkan validasi kecerdasan dalam bentuk ijazah. Pada dasarnya orang cerdas memang tidak perlu pengakuan lagi dari sekitarnya, karena memang tidak ada keraguan juga yang memancing perdebatan apakah mereka cerdas atau tidak.
Wiji Thukul sendiri menjelaskan peristiwa drop out dirinya dengan berkata, “… namun begitu saya drop out dari sekolah, saat itulah saya sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Saya harus mengatur diri sendiri dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak. Kalau di sekolah yang baik sudah ditentukan, padahal hal itu belum tentu baik bagi kita. Ada semacam pembenturan nilai…” Wiji Thukul merasa pendidikan formal tidak mengajarkan nilai-nilai yang dipegangnya.
Masalahnya, bagaimana bila kebosanan bersekolah ini dihadapi orang-orang biasa, yang kerap merupakan kelompok rendah literasi, dan jauh dari kesadaran alih-alih kemampuan belajar otodidak? Jika terjadi pada banyak anak, “putus sekolah” tentu saja akan melahirkan generasi apatis, tidak produktif, sulit berkembang, dan yang paling mengkhawatirkan, terlibas zaman…
Mas Wahyu kemudian membahas fenomena “Deschooling Society“. Konsep dan juga judul buku terkenal karya Ivan Illich (1971) yang mengkritik keras sistem pendidikan formal atau sekolah modern. Sekolah formal, bagi Ilyich, justru merusak proses belajar alami manusia, sekaligus menciptakan banyak masalah sosial. Ia mengusulkan sistem belajar yang benar-benar bebas, sukarela, dan lepas dari kendali negara atau korporasi.
“Deschooling society” secara sederhana dapat dikatakan ingin membebaskan masyarakat dari sistem sekolah paksa yang kaku dan manipulatif, lalu mengembalikan hak belajar kepada individu secara bebas, tanpa kurikulum paksaan negara, tanpa nilai yang juga kerap dipaksakan, juga tanpa ijazah yang sering diperlakukan sebagai “tiket” untuk meraih banyak kesempatan.
Konsep ini kemudian banyak menginspirasi kelahiran kegiatan homeschooling. Gerakan ini juga menjadi kritik terhadap ujian nasional, dan pendidikan yang terlalu berorientasi pasar kerja. Dan bisa jadi menjadi inspirasi juga bagi Wiji Thukul untuk meninggalkan bangku sekolah sehingga meringankan beban orang tuanya, sekaligus memberi kesempatan belajar lebih besar bagi kedua adiknya untuk bersekolah, di tengah keterbatasan biaya. Menceritakan ini, mata Mas Wahyu terlihat berkaca-kaca. Sama seperti saat Mas Wahyu menceritakan sang preman Robinhood yang ditemukan tewas di masa Petrus. Wiji Thukul menuliskannya dengan syahdu dalam puisi “Apa Yang Berharga Dari Puisiku”:
Apa yang berharga dari puisiku
Kalau adik-adikku tak berangkat sekolah
Karena belum membayar SPP
Wiji Thukul telah lama menyimpan kenangan buruk tentang sistem sekolah yang memenjarakan. Kenangan itu dituangkan dalam puisi “Kenangan Anak-anak Seragam”. Tentang uang sekolah yang telat, kedisiplinan sekolah, tentang kurikulum, tentang hafalan nama presiden, Juga tentang sistem penilaian. Realitas kehidupan yang dialami langsung ini selalu menjadi renungannya terhadap retorika kemerdekaan yang digelorakan setiap bulan Agustus menjelang perayaan hari Kemerdekaan. Wiji Thukul
selalu mengkontradiksikan realitas kehidupan yang dihadapinya dengan retorika kemerdekaan. Namun demikian, dalam “Sukmaku Merdeka”, Wiji Thukul menuliskan:
Sukmaku merdeka
Tidak tergantung departemen tenaga kerja
Gugatan Wiji Thukul pada retorika kemerdekaan makin menguat ketika menyadari bahwa seni bisa digerakkan untuk melawan ketidakadilan. Wiji Thukul menginginkan kehidupan politik yang demokratis, iklim yang memungkinkan orang untuk berbicara bebas, mengekspresikan gagasan tanpa rasa takut, bebas dari self censorship… Ia pun dengan berani membacakan puisinya dalam suatu acara 17-an di kampungnya di Solo. Puisi sederhana:
Kemerdekaan adalah nasi
Dimakan jadi tai.
Tentu saja pembacaan puisi itu menimbulkan kegegeran. Tapi bagi Wiji Thukul, ia mendapat pengalaman keindahan baru. “Dari situ saya menangkap adanya perasaan bersama orang kecil di kampung. Selain pengalaman keindahan saya mulai melihat kedahsyatan kekuatan kata-kata,” ujarnya.
Sebagai penutup, Mas Wahyu membacakan puisi “Bernafas Panjanglah”. Frasa “bernafas panjanglah akal” menjadi pengingat kita agar tidak membiarkan akal sehat ikut mati dalam kegelapan. Mata Mas Wahyu kembali berkaca-kaca, dan kali ini, mata kami semua pun berkaca-kaca…













